Ringkasan Materi Seni Budaya Kelas 9 Semester 2 Bab XV: Perancangan Pementasan
Pada
pembahasan materi seni budaya kita kali ini adalah tentang perancangan
pementasan untuk bab XVI seni budaya kelas 9 semester 2. Dengan kami bagikan
uraian pembahasan ini dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi para peserta
didik khususnya untuk kelas 9 SMP atau MTs.
Selain jadi
bahan ajar materi pembahasan ini dapat dijadikan juga sebagai referensi dalam
mempelajari tentang seni teater. Sedangkan bagi guru-guru dapat dijadikan untuk
bahan mengajar kepada peserta didiknya.
Alur dari
pembelajaran perancangan pementasan ini adalah dimulai dengan memahami konsep manajemen,
manajemen produksi, manajemen artistik, manajemen pameran, manajemen
tata artistik.
Untuk
memahami materi perancangan pementasan ini, silahkan simak uraian dibawah ini
dengan seksama.
MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN
Manajemen secara etimologi berasal dari kata
to manage yang berarti mengatur atau merencanakan. Tujuan utama dalam mempelajari
manajemen adalah:
Pertama, agar orang atau kelompok dapat
bekerja secara efisien. Maksudnya, mereka dapat bekerja dengan suatu cara atau
metode sistematis sehingga segala sumber yang ada (tenaga, dana, dan peralatan)
dapat digunakan lebih baik dan akan mencapai hasil yang diharapkan. Efisiensi
ini terjadi jika pengeluaran lebih kecil dari penghasilan, atau hasil yang
diperoleh lebih besar dari penggunaan sumber yang ada.
Kedua, tujuan mempelajari manajemen agar dalam
bekerja atau melakukan usaha dapat dicapai ketenangan, kelancaran, dan
kelangsungan usaha itu sendiri.
Ricky W. Griffi n mendefi nisikan manajemen
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efi sien.
Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara
efi sien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir,
dan sesuai dengan jadwal.
Musyawarah Produksi
Seni Pertunjukan Musyawarah produksi seni
pertunjukan bertujuan untuk membentuk kelompok kerja dalam memproduksi seni
pertunjukan. Dalam musyawarah ini akan menentukan panitia kelompok kerja bagian
produksi dan bagian artistik.
Musyawarah ini selain membentuk kelompok
kerja, juga menentukan produksi seni pertunjukan apa yang akan dibuat. Dalam
kelas teater ini kamu akan memproduksi seni teater dan mementaskan seni teater
hasil produksi. Langkah pertama adalah menentukan lakon cerita yang akan
dipentaskan. Pilihlah naskah lakon cerita itu dari hasil karya latihan menulis
naskah lakon yang sudah dipelajari. Langkah selanjutnya adalah membuat kelompok kerja
produksi seni pertunjukan.
Pembagian Kerja
Pembagian kerja dalam produksi seni
pertunjukan terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian produksi dan bagian
artistik. Nama-nama
kelompok kerja manajemen produksi seni pertunjukan adalah sebagai berikut:
a. Pimpinan Produksi
b. Sekretaris Produksi
c. Bendahara
d. Seksi Dokumentasi
e. Seksi Publikasi
f. Seksi Pendanaan
g. House Manager, bidang-bidang yang termasuk dalam house manager, yaitu:
- Seksi Keamanan
- Seksi Konsumsi
- Transportasi
- Ticketing
- Seksi Gedung
h. Manajemen Artistik, kelompok kerja manajemen artistik seni pertunjukan adalah terdiri dari :
- Sutradara atau Konseptor
- Pemeran
- Pimpinan artistik
Dalam bekerja, pimpinan artistik dibantu oleh:
1). Stage manager
2). Penata panggung
3). Penata kostum atau busana
4). Penata rias
5). Penata cahaya
6). Penata bunyi dan suara
7). Penata Musik dan Sound
TEKNIK PEMERANAN
Seorang pemeran yang bermain di teater
menggunakan seperangkat alat dan teknik agar bisa memainkan karakter peran yang
akan dimainkan. Alat dan teknik tersebut berfungsi agar ekspresi pemeran akan
muncul dan bisa menghidupkan karakter peran.
Dalam rangka usaha untuk menghidupkan ekspresi
itu maka pemeran akan berusaha untuk menciptakan cara yang beragam agar dapat
memenuhi tuntutan teknis pemeranan. Latihan-latihan yang dilakukan bisa berupa
latihan non-teknis dan latihan yang bersifat teknis.
Latihan nonteknis adalah latihan penguasaan tubuh
(latihan olah tubuh dan latihan olah vokal) dan jiwa pemeran itu sendiri
seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreativitas yang terpusat pada
pikirannya.
Sedangkan latihan yang bersifat teknis adalah
latihan yang terfokus pada latihan penguasaan peran yang akan dimainkan.
Latihan teknik ini penting dilakukan oleh pemeran karena dalam menjalankan
tugasnya, ia harus terampil menggunakan segala aspek yang diperlukan saat
memainkan peran.
Semakin terampil ia memainkan peran, maka
penonton semakin mengerti dan mau menerima permainan itu. Latihan teknik ini
harus dipelajari dan dikuasai, tetapi ketika teknik-teknik ini sudah terkuasai
maka harus lebur menjadi milik pribadi pemeran. Teknik[1]teknik itu harus menjadi sesuatu yang spontan
ketika digunakan.
Pelatihan Pemeran
1. Latihan Teknik Muncul
Teknik muncul (the technique of entrance)
menurut Rendra dalam buku Tentang Bermain Drama (1985, hlm.12), adalah suatu
teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah
pentas lakon. Pemunculan pemeran ini bisa diawal pementasan, pada suatu babak
lakon, atau pada adegan lakon.
Pemunculan pemeran ini harus memberikan
gambaran secara keseluruhan terhadap peran yang dimainkan. Gambaran itu bisa
berupa suasana batin, tingkat emosi, tingkat intelektual, maupun segi fi sik
dari peran yang dibawakan.
2. Latihan Teknik Memberi Isi
Teknik memberi isi adalah teknik untuk memberi
isi pengucapan dialog-dialog untuk menonjolkan emosi dan pikiran-pikiran yang
terkandung dalam dialog tersebut. Menurut Rendra (1985, hlm. 18), teknik
memberi isi adalah cara untuk menonjolkan emosi dan pikiran di balik
kalimat-kalimat yang diucapkan dan dibalik perbuatan-perbuatan yang dilakukan
di dalam teater.
3. Latihan Teknik Pengembangan
Teknik pengembangan bisa dilakukan dengan
teknik pengembangan pengucapan dan teknik pengembangan jasmani. Teknik
pengembangan pengucapan dilakukan dengan menaikkan volume suara, menaikkan
tinggi nada suara, menaikkan kecepatan tempo suara, menurunkan volume suara, nada
suara, dan kecepatan tempo suara. Teknik pengembangan jasmani bisa dilakukan
dengan menaikkan tingkat posisi jasmani, berpaling, berpindah tempat, melakukan
gerak anggota badan, dan ekspresi muka.
4. Latihan Teknik Membina Puncak-Puncak
Teknik membina puncak-puncak adalah teknik
yang dilakukan oleh pemeran terhadap jalannya pementasan lakon. Teknik ini
dilakukan oleh pemeran untuk menuju klimaks permainan.
5. Latihan Teknik Timming
Latihan teknik timming ini bertujuan untuk
melatih teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan
antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan. Teknik timming bisa dilakukan
dengan tiga cara, yaitu gerakan dilakukan sebelum kata-kata diucapkan, gerakan
dilakukan bersamaan kata-kata diucapkan, gerakan dilakukan sesudah kata-kata
diucapkan.
6. Latihan Teknik Improvisasi
Latihan teknik
improvisasi ini merupakan latihan teknik dasar permainan tanpa ada persiapan
atau bersifat spontan. Teknik ini berguna untuk mengasah kepekaan seorang
pemeran untuk mengatasi suatu masalah yang timbul pada saat pementasan. Dengan
latihan improvisasi seorang calon pemeran juga terasah daya cipta dan daya
khayalnya.
TATA PANGGUNG
Tata pentas bisa disebut juga dengan scenery
atau pemandangan latar belakang (Background) tempat memainkan lakon. Tata
pentas dalam pengertian luas adalah suasana seputar gerak laku di atas pentas
dan semua elemen-elemen visual atau yang terlihat oleh mata yang mengitari
pemeran dalam pementasan.
Tata pentas dalam pengertian teknik terbatas,
yaitu benda yang membentuk suatu latar belakang fi sik dan memberi batas
lingkungan gerak laku. Dengan mengacu pada defi nisi di atas dapat ditarik
suatu pengertian bahwa tata pentas adalah semua latar belakang dan benda-benda
yang ada di panggung guna menunjang seorang pemeran memainkan lakon.
Prinsip-prinsip dalam menata pentas adalah:
a. Dapat memberi ruang kepada gerak-laku.
b. Dapat memberi pernyataan suasana lakon.
c. Dapat memberi pandangan yang menarik.
d. Dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton.
e. Merupakan rancangan yang sederhana
f. Dapat bermanfaat terus menerus bagi pemeran
atau pelaku.
g. Dapat secara efi sien dibuat, disusun, dan
dibawa.
h. Dapat membuat rancangan harus menunjukkan
bahwa setiap elemen yang terdapat di dalam penampilan visual pentasnya memiliki
hubungan satu sama lain.
TATA BUSANA
Tata busana sangat berpengaruh terhadap
penonton, karena sebelum seorang pemeran didengar dialognya terlebih dahulu
diperhatikan penampilannya. Maka dari itu, kesan yang ditimbulkannya pada
penonton mengenai diri pemeran tergantung pada yang tampak oleh mata penonton.
Busana yang tampak pertama kali akan membantu
menggariskan karakternya, kemudian dari busananya juga akan memperkuat kesan
penonton.
Agar busana pementasan mempunyai efek yang
diinginkan, maka busana harus menunaikan beberapa fungsi tertentu, yaitu:
a. Membantu menghidupkan perwatakan pelaku,
artinya sebelum dia berdialog, busana yang dikenakan sudah menunjukkan siapa
dia sesungguhnya, umurnya, kebangsaannya, status sosialnya, kepribadiannya.
b. Membantu menunjukkan individualisasi
peranan, artinya warna dan gaya tata busana harus dapat membedakan peranan yang
satu dengan peranan yang lain.
c. Membantu memberi fasilitas dan membantu
gerak pelaku, artinya pelaku harus dapat melaksanakan laku atau akting perannya
tanpa terganggu oleh busananya. Busana tidak harus dapat memberi bantuan kepada
pelaku tetapi busana harus sanggup menambah efek visual gerak, menambah indah
dan menyenangkan dilihat di setiap posisi yang diambil pelaku.
TATA RIAS
Tata rias dalam pembahasan ini adalah tata
rias pentas, jadi segala sesuatu harus ditujukan untuk membentuk artistik yang
mendukung pemeran dalam sebuah pementasan lakon. Tata rias yaitu bagaimana cara
menggunakan bahan-bahan kosmetik untuk mewujudkan wajah atau gambaran peran
yang akan dimainkan.
Sebagai contoh seorang pemeran dalam kehidupan
sehari-hari mungkin dikenal sebagai seorang pelajar, tetapi di panggung dia
akan menjadi manusia lain, menjadi seorang pemeran yang digariskan oleh seorang
penulis lakon.
Tugas tata rias, yaitu membantu memberikan
dandanan atau perubahan-perubahan pada para pemain sehingga terbentuk dunia
pentas dengan suasana yang kena dan wajar. Tugas ini dapat merupakan fungsi
pokok, dapat pula sebagai fungsi bantuan.
Sebagai fungsi pokok, misalnya tata rias ini
mengubah seorang gadis belia menjadi nenek tua atau seorang wanita memainkan
peranan sebagai seorang laki-laki atau sebaliknya. Sebagai fungsi bantuan,
misalnya seorang gadis muda harus memainkan peranan sebagai gadis muda, tetapi
masih harus memerlukan sedikit riasan muka atau rambut dan hal-hal kecil
lainnya.
Beberapa kegunaan Tata Rias adalah sebagai berikut :
a. Merias tubuh berarti mengubah hal yang alami
menjadi hal yang berguna artinya dengan prinsip mendapatkan daya guna yang
tepat. Bedanya dengan rias cantik adalah kalau rias cantik merubah hal yang
jelek menjadi cantik sedangkan rias untuk teater adalah merubah hal yang alami
menjadi hal yang dikehendaki.
b. Mengatasi efek tata lampu yang kuat.
c. Membuat wajah dan badan sesuai dengan
peranan yang dimainkan.
TATA CAHAYA
Tata cahaya, yaitu pengaturan sinar atau
cahaya lampu untuk menerangi dan menyinari arena permainan serta menimbulkan
efek artistik. Tata cahaya sebelum menggunakan lampu-lampu listrik yang ada
sekarang ini, maka pertunjukan masih memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber
penerangannya.
Setelah manusia mengenal api sebagai sumber
pemanas dan penerang maka manusia memanfaatkan api sebagai alat penerang
pementasan. Mula-mula, manusia memakai api unggun sebagai alat penerangan dan
sekaligus sebagai alat pemanas, kemudian setelah ditemukan minyak maka alat
penerang berkembang menjadi obor, blencong, cempor dan lain sebagainya.
Keterbatasan intensitas penerangan dari api,
justru memberikan pengaruh yang indah terhadap gerak-laku pemeran bahkan mampu
menimbulkan efek magis dan mungkin sulit didapat pada teater yang tidak
menggunakan cahaya seperti itu. Goyang-goyang lidah api ditiup angin
menimbulkan efek gelap-terang yang mengundang suasana yang artistik.
Tujuan adanya tata cahaya adalah:
a. Menerangi dan menyinari pentas dan pemeran.
b. Menerangi, yaitu cara menggunakan lampu
sekadar untuk memberi terang dan melenyapkan gelap. Jadi, semua pentas dan
barang-barang yang ada, baik yang penting maupun yang tidak penting semua
diterangi. Menyinari, yaitu cara menggunakan lampu untuk membuat bagian-bagian
pentas sesuai dengan keadaan dramatik lakon. Jadi, dengan menyinari
daerah-daerah tertentu maka ada sesuatu atau suasana yang lebih yang hendak
ditonjolkan agar tercapai efek dramatik.
c. Mengingatkan efek cahaya alamiah.
Maksudnya, menentukan keadaan jam, musim, cuaca, dan keadaan dengan menggunakan
tata cahaya.
d. Melukiskan dekor atau scenery dalam
menambah nilai warna sehingga tercapai adanya sinar dan bayangan menonjolkan
fungsi dekorasi.
e. Membantu permainan lakon dengan cara
membantu menciptakan suasana kejiwaan.
TATA BUNYI
Tata bunyi bisa diartikan sebagai cara untuk
mengatur musik, efek bunyi maupun berbagai bunyi-bunyian yang mendukung
terciptanya suasana sehingga muncul nuansa emosional yang tepat. Tata bunyi
juga diharapkan membantu imajinasi penonton untuk lebih bisa membayangkan dan
merasakan suasana kejadian dalam lakon.
Hal yang perlu diperhatikan dalam tata bunyi,
yaitu: Dialog – Efek bunyi – Musik. Ketiganya bisa kita pergunakan bersama-sama,
kadang-kadang hanya dua atau hanya satu saja. Agar pertunjukan enak didengar
dan dilihat kita harus memperhatikan volume dari ketiga bahan tersebut, artinya
volume apa yang harus keras dan volume apa yang harus lemah. Disini volume
berfungsi seperti spotlight maksudnya bunyi apa yang diutamakan dalam adegan
tersebut, apa efek bunyi, musik, atau dialog.
Efek bunyi bisa dihasilkan dari alat musik,
suara manusia atau benda-benda yang kita buat secara sederhana yang berfungsi
untuk membantu penonton agar lebih dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam
lakon. Penggunaan efek bunyi ini tidak bisa sembarang tetapi harus sesuai dan
mempunyai tujuan. Cara sederhana membuat efek bunyi di antaranya sebagai
berikut.
- Bunyi pintu, (jika pintu dibuka atau ditutup akan kedengaran bunyi gerendel dan benturan daun pintu) caranya kita buat pintu dalam kotak kecil yang dilengkapi dengan gerendel, jika ditempatkan di dekat mikrofon maka bunyinya akan menyerupai bunyi yang sesungguhnya.
- Bunyi jam dengan menggunakan kotak logam dan pensil atau ballpoint yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.
- Bunyi halilintar dengan menjatuhkan seng atau memukulinya.
- Bunyi tembakan dengan memecahkan balon atau memukul benda keras.
- Bunyi kapal terbang dengan merekam bunyi pesawat di lapangan atau lipatan karton tipis yang disentuhkan pada baling-baling kipas listrik dan dikeraskan dengan mikrofon. Dan masih banyak lagi asal kita mau melakukan percobaan.
Musik dalam teater mempunyai kedudukan yang
penting karena penonton akan mudah untuk membayangkan atau mempengaruhi
imajinasinya. Musik yang baik dan tepat bisa membantu pemeran membawakan warna
dan emosi peran dalam adegan. Musik juga dapat dipakai sebagai awal dan penutup
adegan atau sebagai jembatan antara adegan yang satu dengan adegan yang lain.
Demikian
pembahasan ringkas materi tentang perancangan pementasan untuk bab XVI seni
budaya kelas 9 semester 2, semoga dapat menambah wawasan pengetahuan bagi
peserta didik dan guru-guru yang mengajar seni budaya. Demikian semoga
bermanfaat dan terima kasih.

Posting Komentar untuk "Ringkasan Materi Seni Budaya Kelas 9 Semester 2 Bab XV: Perancangan Pementasan"
Posting Komentar